6 kesalahan orang tua dalam mendidik anak
Setiap orang tua memiliki cara yang khas dalam
berinteraksi dengan buah hatinya. Bagaimana cara mereka mengungkapkan
perhatian, kasih sayang, bahkan amarah ataupun teguran. Dalam
berinteraksi dan mendidik anak tersebut,
bisa jadi orang tua melakukan kesalahan. Apakah kita pernah melakukan
salah satu atau beberapa dari kesalahan tersebut? Mari kita lihat…
1. harapan negatif
Tekanan
yang paling kuat dalam diri manusia adalah harapan. Harapan, kita
komunikasikan lewat kata-kata dan bahasa tubuh. Anak-anak
menginternalisasi harapan itu sehingga menjadi bagian dari dirinya.
Cotohnya;
jika orang tua percaya bahwa anak tidak akan berhasil dalam
menyelesaikan soal matematika yang sulit, orang tua akan menyampaikannya
dengan cara apapun dan mungkin tanpa kita sadari. Anak mulai meragukan
kemampuannya untuk menjawab soal matematika tersebut dan bertingkah laku
yang sesuai dengan harapan kita. Yaitu anak gagal menyelesaikan soal
matematikanya.
2. standar yang terlalu tinggi
Kita
seringkali menentukan standar yang terlalu tinggi untuk dicapai anak
kita. Kita ingin kamarnya rapi sekali. Setiap lembar rambut di kepalanya
harus tersisir rapi. Mereka harus sukses di sekolah, olahraga,
pekerjaan rumah, dll. Kita menyampaikan harapan kita kepada anak untuk
selalu melakukan yang terbaik. Kita menjadi jarang puas dengan prestasi
anak. Kita menuntut anak untuk berprestasi lebih dari kemampuan dan
usianya.
3. menumbuhkan kompetisi antar saudara kandung
Orang
tua sering tidak sadar kalau mereka menumbuhkan kompetisi antar saudara
kandung. Kita sering memuji anka yang berhasil sementara kita
mengabaikan atau mengkritik anak yang gagal. Membandingkan mungkin saja
kita ungkapkan dengan gerakan atau ungkapan wajah dan juga kata-kata
yang semua sama efektifnya untuk menumbuhkan kompetisi.
Kompetisi antar saudara kandung memiliki
dampak terhadap kelebihan dan kekurangan anak. Anak-anak kadang menjadi
terampil di bidang yang saudara kandungnya tidak bisa. Anak yang sama
mungkin tidak akan mencoba kegiatan yang dilakukan saudara kandungnya karena mereka merasa tidak akan berhasil.
Kejadian
lain yang bisa saja terjadi, jika anak yang pada awalnya memiliki
prestasi di bawah saudara kandungnya kemudian prestasinya berubah. Hal
ini tentunya membuat posisi saudara kandung yang berprestasi terancam.
Biasanya secara temporer, saudara kandung yang berprestasi akan menurun
kualitas belajar dan tingkah lakunya.
4. ambisi
Orang
tua yang terlalu berambisi, ingin selalu menjadi orang tua yang
terbaik. Untuk mendapatkan posisi terbaik, orang tua juga memaksa
anaknya untuk juga menjadi yang terbaik. Sikap ambisius ini juga menular
pada anak-anaknya. Mereka tidak akan mencoba kalau tidak akan menjadi
yang terbaik. Mereka takut mengalami kegagalan. Takut tampil tidak
sempurna.
Ada juga orang
tua yang tidak ingin anaknya ambisius, namun komentarnya mendorong anak
untuk ambisius. “Kamu harusnya bisa lebih baik nilainya kalau kamu
belajarnya lebih rajin.” Atau “Kalau nilai kamu begini terus, hebat
deh.” Komentar seperti ini memberi pesan kepada anak bahwa kamu berharga
jika kamu sukses. Jadi orang tua yang ambisius mengungkapkan kepada
anak ketidakpuasannya dan berapa pun nilai anak tidak pernah cukup.
5. standar ganda
Orang tua tahu bahwa mereka memiliki kewajban dan juga hak . Namun seringkali orang tua melupakan hak anak dan lebih ingat akan kewajiban anak. Ibu menginginkan anak selalu meletakkan barang-barangnya di tempatnya. Namun di ruang tamu penuh dengan majalah wanita dan
barang-barang ibunya yang tidak diletakkan di tempatnya. Anak dituntut
untuk selalu membantu pekerjaan rumah tangga. Sementara ayah karena
sudah lelah bekerja, setelah pulang kerja diperbolehkan untuk tidak
membantu pekerjaan rumah tangga. Orang tua lupa bahwa sekolah dan
bermain adalah pekerjaan anak.
Dengan diperlakukan
berbeda, anak akan menangkap pesan ada hak-hak khusus yang tidak
diperoleh anak. Anak menangkap kesan bahwa mereka tidak berharga di
dalam keluarga. Pada akhirnya anak juga tidak akan berminat mengerjakan
pekerjaan rumah tangga.
6. serangan kata-kata
Kata-kata
yang kita lontarkan kepada anak tanpa sadar memberikan penilaian bukan
penyemangat anak. Seringkali kata-kata yang kita ucapkan adalah pujian
yang isinya komentar yang mengungkapkan penilaian dan pendapat kita
sebagai orang tua. Komentar seperti ini membuat anak tergantung pada
pendapat orang lain. Bukan menjadi percaya pada dirinya.
0 Response to "6 kesalahan orang tua dalam mendidik anak"
Post a Comment